"Sahabat mengembangkan SDM BPR"


ShoutMix chat widget

Senin, 30 April 2012

PELAKSANAAN PELATIHAN SURVAILEN CERTIF

            
Tidak terasa  5 (Lima) Tahun sudah Sertifikat Kompetensi sebagai Direksi BPR yang mengikuti ujian sertifikasi pada tahun 2005 – 2006  akan berakhir mulai Desember 2011. Setelah mengikuti ujian sertifikasi pada angkatan pertama yang diselenggarakan di kampus UHAMKA, saat itu hati saya gelisah karena bila ada tiga modul dari sepuluh modul yang diuji tidak lulus, maka konsekuensinnya adalah mengulang seluruh modul. Padahal waktu itu saya harus menjadi Pelatih sertif, jelas sangat menjadi beban. Akhirnya saya harus kerja keras dengan membuat rangkuman agar lebih mudah dipelajari, maklum saya tidak mengikuti pelatihan sertifikasi dan memang pada saat itu diperbolehkan ikut ujian langsung. Beruntung saya memiliki modul-modul sertifikasi karena saya salah satu peserta Training of Trainers (TOT) Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Certif, dan telah memiliki akreditasi untuk menjadi fasilitator modul Manajemen Sumber  Daya Manusia (Human Resources Development Management), Manajemen Risiko Kredit (Credit Risk Management), Asset Liabilities Management (ALMA) dan Penetapan Biaya dan Harga (Costing Pricing).  Sekitar setahum setelah lulus mengikuti uji kompetensi sertifikasi profesi Direksi BPR, maka pada tanggal 18 Desember 2006 saya mendapatkan Sertifikat Kompetensi, dan berhak menyandang titel Certified  Rural Bank Director (CRBD) yang akan berakhir pada tanggal 17Desember 2011. Artinya, pada bulan September sampai dengan Oktober 2011 saya harus melakukan perpanjangan sertifikasi agar tetap kompeten dalam mengelola Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk 5 (lima ) tahun ke depan, dengan mengikuti pelatihan survailen  atau pelatihan penyegaran sertifikasi.  Jika sampai terlewat melebihi 1 (satu) tahun akan terkena sangsi Sertifikasi Ulang dan wajib mengikuti Ujian tertulis. Wah, jangan mengulang lagi cukup sekali saja.

Ketentuan Dan Persyaratan Sertifikasi Ulang
Surat LSP Certif No. 06/353/CERTIF/WK/VIII/2010 tertanggal 19 Agustus 2010  perihal Survailen dan sertifikasi Ulang bagi Pemegang Sertifikasi Kompetensi BPR. Pemegang Sertifikat Kompetensi adalah seluruh peserta uji (asesi) kompetensi yang telah dinyatakan lulus atau kompeten, yang dibuktikan dengan terbitnya SERTIFIKAT KOMPETENSI dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) atas nama asesi sesuai kualifikasi di bidang BPR, yaitu Kualifikasi Direktur, Komisaris dan Kepala Bagian. Kegiatan survailen bertujuan untuk memantau dan memastikan masih terpenuhinya profesi pihak yang disertifikasi dan/atau terpeliharanya kompetensi kerja Pemegang Sertifikat Kompetensi. Sedangkan sertifikasi ulang dimaksudkan untuk memperbaharui masa berlaku sertifikat kompetensi sesuai dengan kualifikasi atau profesi dengan masa berlaku 5 (lima) tahun.
            Terkait dengan survailen terdapat ketentuan sebagai berikut :
1. Sertifikasi ulang wajib diikuti oleh pemegang sertifikat kompetensi sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sebelum masa berlaku sertifikat berakhir.
2. Metode asesmen sertifikasi ulang yang digunakan   diantaranya : wawancara, portfolio, dan/atau kunjungan pemantauan ke tempat kerja.
3. Sertifikasi ulang bagi pemegang sertifikat kompetensi yang masa berlaku sertifikatnya telah berakhir melewati periode 1 (satu) tahun, maka asesmen dilakukan dengan metode UJIAN TERTULIS.
             Dalam hal persyaratan mengikuti sertifikasi ulang yang harus dipenuhi adalah :
1. Memiliki 1 (satu) surat keputusan hasil survailen dari LSP LKM Certif perihal pernyataan terpeliharanya kompetensi kerja pemegang sertifikat kompetensi.
2.  Melampirkan surat keterangan bekerja di BPR atau industri yang relevan minimal 6 (enam) bulan terakhir.
3. Mengikuti minimal 2 (dua) modul pelatihan penyegaran (refreshing) , diselenggarakan oleh Yayasan Perbarindo atau Lembaga Pelatihan lain yang ditetapkan LSP LKM Certif.
4. Mengikuti proses asesmen yang dilaksanakan oleh LSP LKM Certif, meliputi surat permohonan memperbaharui maka berlaku sewrtifikat, melengkapi formulir PKT (Pengakuan Kompetensi  Terkini) dan persyaratan administratif lainnya.
5. Biaya Sertifikasi Ulang sebesar Rp. 400.000,- (Empat Ratus Ribu Rupiah) di setor ke rekening Lembaga Certif..

Kemana Saya Harus Mengikuti Pelatihan Penyegaran Sertifikasi ?
            Sempet bingung saya harus mengikuti sertifikasi direksi di mana, sebab DPD Perbarindo yang selama ini aktif menyelenggarakan pelatihan sertif  tidak terdengar kabar beritanya. Tidak hanya saya ternyata beberapa teman pengurus BPR pun mengalami hal serupa, bingung mau ikut tapi pelatihan tapi ke mana ya ? Sebagai anggota Perbarindo, saya berharap asosiasi dapat mengatasi permasalahan ini, sebab saya memang dalam hal Penyegaran Sertifikasi tidak mengikuti Training of Trainers (TOT) lagi seperti halnya teman-teman yang lain. Suatu hari, saya sedang mengikuti rapat komisariat, saya mendapat info dari salah seorang pengurus BPR bahwa dirinya baru saja mengikuti Pelatihan Penyegaran Sertifikasi di luar Jakarta. Saya akhirnya memutuskan untuk mencari waktu sekitar bulan September – Oktober 2011 untuk mengikuti pelatihan di luar Jakarta.
            Sebenarnya hati saya merasa berat karena sebagai orang yang selama 6 (enam) tahun bergelut di pelatihan sertifikasi  di Jakarta harus mengikuti pelatihan di luar Jakarta, akan tetapi harus bagaimana lagi, mungkin asosiasi belum memiliki kesiapan dalam membentuk Yayasan yang dapat menampung kebutuhan anggota khususnya untuk mengikuti pelatihan sertifikasi baik yang sepuluh modul maupun penyegaran di mana saat ini merupakan kebutuhan yang mendesak.

Pelatihan Penyegaran Sertifikasi Di Jakarta
            Berita yang menggembirakan saya terima sekitar pertengahan September 2011, bahwa asosiasi DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya melalui Yayasan Perbarindo Jakarta akan menyelenggarakan Pelatihan Penyegaran pada tanggal 23 September 2011 di Hotel kawasan Senen Jakarta Pusat.  Alasan kegembiraan saya sebagai anggota Perbarindo dengan mengikuti Pelatihan Penyegaran di Jakarta adalah :
         Pertama, DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya memiliki kesungguhan untuk memperhatikan kelanjutan profesi Direksi BPR yang akan segera berakhir masa berlaku sertifikat kompetensinya atau Surat Ijin Mengelola BPR,  khususnya mereka yang ada di DKI Jaya dan sekitarnya, dan umumnya di wilayah Sumatera, Kalimantan ,  Sulawesi, Batam dan lainnya yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan sepuluh modul untuk bisa terus berkarir di BPR.
Kedua, para Direksi BPR  yang telah mengikuti sepuluh modul menginginkan adanya kemudahan dalam mendapatkan akses penyelenggara pelatihan perpanjangan sertifikasi sehingga tidak perlu repot karena seingat mereka Perbarindo DKI Jakarta adalah penyelenggara aktif untuk pelatihan sertifikasi Direksi dan Komisaris BPR.
Ke tiga,  bahwa Jakarta adalah ibu kota negara yang menjadi icon bagi Direksi yang tidak hanya membutuhkan kesegaran dalam hal pelatihan sertif, tetapi juga segar dalam hal lokasi sehingga meski hanya tiga hari saja bisa dimanfaatkan untuk menyegarkan pikiran melupakan sejenak masalah-masalah di kantor. Dan terpenting bila terpaksa ada urusan kantor yang mendesak mudah di jangkau karena akses jalan yang mudah ditempuh.
Ke empat, pelatihan diadakan di tempat yang strategis dan tergolong berani untuk Yayasan yang pertama kali berdiri, menyelenggarakan pelatihan di hotel berbintang di Jakarta untuk memberikan kepuasan kepada peserta.
Ke lima, mengingat waktu yang sudah mendesak, dan menjelang akhir tahun biasanya akan disibukkan dengan penyusunan rencana kerja tahunan termasuk mengejar target 2011, maka saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan sertifikasi angkatan pertama Yayasan Perbarindo Jakarta.
Meskipun sempat tertunda beberapa hari karena alasan kurangnya peserta, maka pada tanggal 26 September 2011 dilaksanakan pelatihan penyegaran sertifikasi 2 (dua) modul yaitu Internal Audit dan Manajemen Risiko diselenggarakan oleh Yayasan Perbarindo Jakarta bertempat di Hotel Harris Kelapa Gading Jakarta Utara.

Tidak Siap Mengisi Formulir Survailen
            Tanggal 26 September 2011 awal dilaksanakannya pelatihan penyegaran sertifikasi. Saya tidak bawa apa-apa ke tempat pelatihan karena memang tidak ada informasi yang harus saya bawa terkait sebagai peserta pelatihan survailen. Pada sesi pertama Ibu Shinto dari LSP Certif menerangkan panjang lebar yang berhubungan dengan perlunya perpanjangan sertifikat kompetensi di mana salah satunya adalah adanya kewajiban mengikuti pelatihan penyegaran 2 (dua) modul yaitu Internal Audit dan Manajemen Risiko.
            Namun yang membuat saya agak bingung ternyata ada beberapa teman yang sudah membawa dan mengisi sejumlah formulir terkait dengan perpanjangan sertif ini. Nah lho, saya kok tidak tahu ya ?  Formulir belum tersedia di penyelenggara dan saya tidak membawa photo 3 x 4 sebanyak 3 lembar dan copy sertifikat kompetensi.
            Ibu Shinto memberikan penjelasan satu persatu mengenai persyaratan yang harus dipenuhi peserta. Selanjutnya memberitahukan kepada peserta pelatihan, apabila sekarang belum bisa memenuhi persyaratan yang diminta Lembaga Certif terkait dengan Perpanjangan Sertifikat Kompetensi tersebut, maka setelah pelatihan dapat dilengkapi dan bisa di antar langsung ke kantor LSP Certif di Kemang Raya.
Memang isian formulir perpanjangan sertifikasi ini agak membingungkan dan ada kode yang harus diakses melalui internet. Setiap peserta yang mengikuti Pelatihan Penyegaran Sertifikasi akan diberikan surat yang memuat informasi terkait dengan Program Pemeliharaan Sertifikat Kompetensi dengan membuka web LSP Certif yaitu www.certif.or.id.

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Pelatihan Penyegaran Sertifikasi
         Untuk ketenangan, kenyamanan dan kelancaran dalam melakukan Pelatihan Survailen, terlebih jika peserta dari Luar Jakarta,  maka sebaiknya mengetahui Persyaratan yang harus dipenuhi terkait dengan perpanjangan sertifikat kompetensi yang meliputi :

1.    Mengisi Surat permohonan Perpanjangan Sertifikat Kompetensi
       Contoh :
                                                                             ……………, tanggal…….................

Kepada Yth.:
Ketua LSP LKM Certif
Gedung LPPI Lantai 3
Jln. Kemang Raya No 35
J a k a r t a

Perihal: Permohonan Perpanjangan Sertifikat Kompetensi di Bidang BPR.

Dengan hormat,
Sehubungan dengan Sertifikasi Profesi di bidang Bank Perkreditan Rakyat (BPR), bersama ini kami mengajukan permohonan mengikuti sertifikasi ulang perpanjangan masa berlaku Sertifikat Kompetensi, dengan keterangan sebagai berikut:


Nomor UJK           :                                                                            

Nama                    :

Nomor Sertifikat    :

Kualifikasi/Level   :

Tanggal berakhir    :

Melengkapi permohonan ini kami lampirkan:

No
Keterangan Dokumen
Ada
Tidak
1
Formulir Permohonan Sertifikasi ( FR-APL-01)


2
Penilaian Mandiri ( FR – APL-02)


3
Surat Keputusan Hasil Survailen dari LSP LKM Certif


4
Surat Keterangan Bekerja di BPR atau industri relevan


5
Sertifikat Kehadiran Pelatihan Penyegaran ( SKP) 2 Modul


6
Kode Etik Profesi


7
Kartu Tanda Pengenal atau indentitas diri lainya


8
Pas foto warna ukuran 3x4 sebanyak 3 lembar


9
Bukti pembyaran biaya registrasi sertifikasi ulang Rp400.000,-


10
Bukti lainya



Selanjutnya saya menyatakan bahwa bersedia untuk mengukuti proses asesmen (uji kompetensi) yang dilaksanakan oleh LSP LKM Certif.
Demikian, atas perhatian dan kerja sama yang diberikan kami mengucapkan terima kasih.

                                                                                                     Hormat kami
                                        
Terkait dengan pengisian Formulir Perpanjangan Sertifikasi di atas, khususnya nomor UJK (Uji Kompetensi), maka Lembaga Certif memberikan surat kepada peserta pelatihan penyegaran sertifikasi  yang isinya memuat informasi  sebagai berikut :

No. UJK Baru/ Username  (Untuk dimasukkan dalam permohonan)   
Password
Nama
Kualifikasi Profesi
Periode UJK ke
No. Sertifikat Kompetensi
Masa berlaku sertifikat

Selanjutnya dapat diakses pada  www.certif.or.id   klik icon Beranda lihat kotak Login.
Di sana dapat diketahui Profil dan Transkrip Nilai  Uji Kompetensi 10 (sepuluh) Modul, termasuk SK Perpanjangan Sertifikat Kompetensi setelah dilakukan assesment.

2.  Mengisi Formulir Survailen yang dilampirkan dengan Surat Keterangan Kerja
SURAT KETERANGAN
No.  .................................

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa:
Nama
:

Nomor KTP/SIM
:

Tempat, Tanggal Lahir
:

Pekerjaan
:

Alamat
:


Adalah benar bekerja pada PT. BPR Marcorindo Perdana, sejak tanggal 11 Desember 1995 dengan keterangan jabatan sebagai berikut:

No
Jabatan (mulai terkini)
Masa Jabatan (tanggal)
1
Direktur Utama
......................  sampai sekarang
2


3



Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya,  agar  dapat dipergunakan seperlunya.

Jakarta ................................. 2011
PT. BPR .....................

...........................                       ..........................
Direktur                               Direktur Utama

  3.  Mengisi Formulir Surveilan yang dilampirkan dengan Surat Keterangan Kerja
      Isinya meliputi  :
       Bagian  1  :  Rincian Data peserta         
       Bagian  2 :  Daftar Unit Kompetensi
       Bagian  3 :  Unit Kompetensi dan Bukti Pendukung
 4.  Mengisi Formulir Penilaian Mandiri
       Memuat daftar unit kompetensi yang terkait dengan pelaksanaan 10 (Sepuluh Modul) yang telah diikuti pelatihannya dan sudah lulus ujian kompetensinya.
5.    Menandatangani Kode Etik Pemegang Sertifikat Kompetensi
Seluruh Formulir 1 sampai dengan 5 tersebut di atas dapat di download di www.certif.or.id atau bisa mendapatkan pada masing-masing Mitra penyelenggara pelatihan penyegaran sertifikasi

Manfaat Pelatihan Penyegaran Sertifikasi
Pelatihan Penyegaran Sertifikasi pada dasarnya merupakan pelatihan yang wajib diikuti oleh pemegang sertifikat kompetensi yang akan jatuh tempo masa berlakunya. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh lembaga terkait denga sertifikasi profesi di Indonesia yaitu Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang dilaksanakan oleh LSP Certif.
Sebagai salah satu pemegang Sertifikasi Kompetensi yang akan berakhir pada tahun 2011 ini dan telah mengikuti Pelatihan Penyegaran Sertifikasi, maka saya dapat mengatakan bahwa manfaat dari pelatihan penyegaran ini adalah ;
1. Penambahan wawasan dalam hal pengetahuan pengelolaan BPR di mana ada 2 (dua) modul baru yang tidak terdapat di 10 (sepuluh) modul sebelumnya.
2.  Sarana bertukar pikiran antara Fasilitator dan Peserta yang mengikuti penyegaran terkait dengan pelaksanaan pengelolaan BPR yang sehat dengan tema dua modul penyegaran.
3.  Sarana untuk melengkapi persyaratan perpanjangan sertifikasi kompetensi untuk lima tahun ke depan sehingga masih dinilai kompeten dalam mengelola BPR.
4.  Sebagai satu cara mengalokasikan biaya pendidikan yang wajib dikeluarkan BPR sesuai ketentuan Bank Indonesia.

Kebutuhan Pelatihan Penyegaran Sertifikasi Bagi Direksi
Pelatihan Penyegaran sertifikasi bagi Direksi BPR merupakan kebutuhan untuk memenuhi persyaratan administratif perpanjangan Sertifikasi Kompetensi Sertifikasi Profesi sebagai Direksi BPR. Dalam hal kaitannya terhadap dampak positif bagi BPR, apabila modul yang diajarkan diimplementasikan maka akan berdampak positif bagi terciptanya industri BPR yang sehat.
Namun demikian operasional BPR tidak hanya didasarkan pada tersedianya kebijakan yang baik, tetapi bagaimana seluruh individu mulai dari atas sampai bawah mematuhi seluruh kebijakan yang telah disusun secara baik, sehingga tindakan tercela dan dihilangkan. Seperti kita ketahui bahwa mengelola BPR bukan hal mudah, banyak risiko yang dihadapi dan dampak negatifnya pasti akan menurunkan reputasi BPR secara lokal bahkan nasional bila skla masalahnya sudah besar.  Hal ini tentu diperlukan wawasan yang cukup bagi Direksi BPR untuk melakukan antisipasi terhadap risiko yang terjadi di BPR dari segala sisi. Tidak hanya pandai membuat aturan tetapi bagaimana melakukan di lapangan terhadap pelaksanaan kebijakan menjadi sangat penting.
Dampak positif dari pelatihan penyegaran sertifikasi bagi Direksi yang mengikutinya adalah memiliki wawasan tambahan dari peserta yang mengikuti pelatihan sehingga bisa menjadi masukkan bagi Direksi yang masih harus melakukan penyempurnaan terhadap praktek audit internal dan manajemen risiko di BPR nya.
Sebagai pemegang Sertifikat Kompetensi, pelatihan penyegaran sertifikasi masih bersifat penambahan wawasan yang bersifat teoritis dan sharing antar peserta dan fasilitator, di samping sebagai pemenuhan syarat perpanjangan Sertifikat Kompetensi. Apabila dikaitkan dengan Integritas, maka perlu diuji pelaksanaannya di kantor masing-masing sebab tidak ada jaminan setelah mengikuti pelatihan penyegaran sertifikasi tindakan tercela oknum Direksi berhenti. Alasannya, selama ada niat dalam diri, selama ada kewenangan, selama ada akses dan kesempatan pihak-pihak yang berniat melakukan tindakan tercela, maka sebaik apapun sistem pengendalian yang ada  biasanya akan kecolongan juga. Sudah banyak contoh yang terjadi baik di industri BPR maupun bank umum.
Dalam hal ini, risiko tindakan tercela sebenarnya bisa dihindarkan apabila Sumber Daya yang mengelola BPR memiliki pemahaman tentang dampak yang sangat buruk apabila melakukan penyimpangan baik bagi reputasi dirinya maupun perusahaan serta industri BPR secara keseluruhan.
Nah, disini perlu adanya kerjasama antara LSP Certif sebagai pihak yang memiliki kewenangan menerbitkan Sertfikat Kompetensi bersama BNSP, dan Bank Indonesia sebagai pihak yang sangat mengetahui kualitas Direksi dalam mengelola BPR untuk memiliki data-data Direksi yang terindikasi sedang bermasalah dan operasional BPR nya terhambat karena tindakannya, untuk tidak dijinkan mengikuti Pelatihan Penyegaran Sertifikasi untuk memperpanjang masa berlaku Sertifikat Kompetensi. Ini adalah cegah tangkal sejak masih awal, sehingga tidak menyebar kepada BPR lain di mana suatu ketika dia melompat untuk mencuci kesalahannya sebelum terkena sangsi Bank Indonesia. Jadi LSP Certif harus memfilter siapa yang berhak mengikuti pelatihan penyegaran sertifikasi dan tidak hanya didasarkankan pada tanggal berakhirnya sertifikat tersebut. 

Modul Pelatihan Penyegaran Sertifikasi
            Dalam pelatihan penyegaran sertifikasi yang saya dan teman-teman seprofesi ikuti, terdapat 2 (dua) modul baru di luar modul sebelumnya yaitu  :
1.    Modul  Internal Audit
       Modul ini membahas tentang pengendalian internal, norma pemeriksaan, peran dan fungsi audit internal, aplikasi audit internal BPR, prosedur audit terhadap kegiatan BPR dan prosedur audit terhadap aktiva produktif.
2.    Modul  Manajemen Risiko
       Modul ini memuat materi pemahaman pengertian risiko di bank, memahami tentang risiko operasional, memahami risiko kredit, memahami risiko pasar dalam hal ini risiko suku bunga , risiko likuiditas dan risiko modal serta lainnya.

        Kedua modul tersebut di atas pada dasarnya sangat bermanfaat untuk diketahui oleh Direksi BPR, meskipun pada umumnya BPR sudah melaksanakan ke dua aktivitas tersebut di atas. Dalam hal modul Manajemen Risiko, mengacu pada PBI No. 5/8/PBI/2003  dan  lebih banyak mengambil referensi dari buku Manajemen Risiko Untuk BPR karya Soedarto.
Namun demikian ada beberapa masukan yang saya ingin berikan agar ke dua modul ini tidak terkesan teoritis sehingga dapat lebih mencerminkan kondisi di BPR yang sebenarnya yaitu :
1.    Sebaiknya modul internal audit di masukkan peristiwa-peristiwa kritis yang terjadi di BPR apabila tidak dilakukan internal audit dan dampak yang ditimbulkan. Modul ini bisa mengacu pada praktek yang terjadi di BPR berdasarkan hasil temuan Bank Indonesia yang kerap disampaikan dalam pertemuan antara Bank Indonesia dengan industri BPR untuk penilaian kinerja BPR setiap tahun.
2.    Sebaiknya modul manajemen risiko dapat memasukkan kasus-kasus yang terjadi dan telah dipublikasi atau hasil penelitian di BPR yang mencerminkan manajemen risiko sangat penting untuk di implementasikan agar BPR selalu dalam kondisi sehat.
3.    Sebaiknya modul jangan hanya mengandalkan pada literatur tetapi fakta di lapangan yang terkait dengan pelaksanaan Internal Audit dan Manajemen Risiko yang baik dan terbukti dapat mengatasi permasalahan krusial yaitu Frauds agar dapat diperkecil. Hal ini bisa direferensikan BPR yang dinilai baik dalam pelaksanaan Internal Audit dan Manajemen Risikonya sebagai bench marking (acuan).

Dampak Peraturan Perpanjangan Pemegang Sertifikat Kompetensi
            Peraturan perpanjangan Kompetensi dengan hanya mengikuti pelatihan penyegaran 2 (dua) modul tentu diharapkan akan berdampak positif karena Direksi me-refresh kembali mengenai apa yang telah dilaksanakan di kantor BPR selama ini terkait dengan pelaksanaan Internal Audit dan Manajemen Risiko. Dampak positif lainnya Direksi tidak perlu meninggalkan kantor BPR terlalu lama dan tidak perlu memeras otak untuk belajar lebih keras karena tidak ada ujiannya. Hanya saja dari sisi sosialisasi masih belum optimal, khususnya dalam melengkapi persyaratan pelatihan penyegaran sertifikasi sehingga memakan waktu penyempaian materi.
            Dampak negatif dari peraturan ini adalah, Direksi yang tidak memiliki integritas kurang baik masih bisa memungkinkan memperpanjang Sertifikat Kompetensinya karena tidak ada filterisasi di mana pelaksanaannya hanya didasarkan pada tanggal jatuh tempo saja.  Hal ini harus menjadi perhatian jangan sampai uji kompetensi disamakan dengan uji integritas di mana orang yang tidak memiliki integrita hanya karena dinilai kompeten mengikuti 2 (dua) model maka masih layak untuk memiliki sertifikasi profesi.

Tentang Mitra Penyelenggara Pelatihan Penyegaran Sertifikasi
            Dalam hal memilih mitra penyelenggara Pelatihan Penyegaran Sertifikasi menurut saya ada beberapa kriteria yaitu  ;
1.  Mitra pelatihan dekat dengan lokasi BPR sehingga tidak perlu menginap, dan sebaiknya menetapkan waktu pelaksanaan pada hari Kamis dan Jum’at sehingga ada waktu istirahat pada hari Sabtu dan Minggu.
2.  Mitra pelatihan dapat mengkomunikasikan jadwal pelatihan dengan lebih pasti, dengan mengirimkan faks termasuk apabila ada perubahan dengan mengirimkan surat alasan pengunduran pelaksanaan pelatihan.
3. Mitra pelatihan menentukan tempat pelatihan yang strategis, nyaman dan terhindar dari kemacetan khususnya pagi hari.
4. Mitra pelatihan membedakan tarif pelatihan antara peserta yang menginap dan tidak menginap.
5. Mitra pelatihan dapat menetapkan jadwal pelatihan secara baik agar tidak terjadi kelebihan waktu yang tidak efektif, dan sebaiknya ditetapkan saja 2 (dua) hari.
6. Mitra pelatihan dapat menyediakan fasilitator dan sarana pelatihan yang baik sehingga tujuan pengajaran modul dapat terlaksana dengan baik.
7. Mitra pelatihan mengirimkan formulir dan persyaratan pelatihan penyegaran sertifikasi melalui email dengan memberikan contoh pengisiannya agar efektif, sehingga pada saat peserta datang ke tempat pelatihan sudah siap dikumpulkan.
8. Mitra pelatihan dapat mengelola waktu pelatihan dengan baik sehingga semua materi dapat didiskusikan sesuai tujuan penyelenggaraan pelatihan penyegaran sertifikasi.
9. Mitra pelatihan dapat melakukan sosialisasi masal bekerjasama dengan komisariat-komisariat Perbarindo yang berdekatan dengan wilayah kerjanya, sehingga akan lebih efektif dalam mendapatkan peserta pelatihan.
10.  Mitra Pelatihan dapat menggunakan media website dari asosiasi agar calon peserta dapat mengetahui dengan mudah jadwal pelatihan dan persyaratannya.

0 komentar:

Poskan Komentar